Kamis, 26 Juli 2012

SOLAWAT & SYAFAAT



Sholawat adalah bentuk jamak (plural) dari Sholat yang artinya Do’a. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW mengandung pengertian berdoa kepada Allah Swt agar Nabi Muhammad SAW dan keluarganya selalu dilimpahkan kesejahteraan dan keberkatan. Tujuan dari membaca sholawat agar kaum muslimin mendapatkan syafaat (syafa’atul Uzhma) di akherat nanti. Dasarnya ialah firman Allah Swt:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. (الأحزاب (56).
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Ahzab (33): 56)
Perintah di dalam firman Allah SWT di atas adalah bersifat umum, tidak dijelaskan waktu dan caranya. Oleh karena itu kaum muslimin dapat memanjatkan sholawat kapanpun dan dimanapun berada. Dan yang paling utama adalah membaca sholawat ketika beribadah.
 (Al-Ahzab:56). Tentunya cara bersholawatnya harus dengan cara yang baik dan benar serta tidak berlebihan. Ketika bersholawat, maka harus disertai dengan mengingat perjuangan Nabi SAW seperti halnya Beliau selalu mengingat umat-umatnya. Nabi SAW selalu sayang kepada umatnya bahkan sampai akhir hayatnya yang diingat adalah umatnya, maka kita pun harus membuktikan rasa sayang kepada Beliau, diantaranya dengan senantiasa bersholawat dan mengikuti sunnahnya.
Di Masyarakat, kemudian berkembang syair-syair untuk memuji Nabi SAW, oleh sebagian bahkan sering diadakan acara sholawatan tetapi kadang kala dilakukan dengan berlebihan bahkan sambil dikeraskan. Sesungguhnya kegiatan seperti ini diawali semenjak zaman Sholahuddin Al-Ayyubi. Ketika itu kaum muslimin membutuhkan motivasi dalam berperang (perang salib). Karena bertepatan dengan bulan Rabiul awwal (bulan kelahiran Nabi) maka, Solahuddin al-Ayyubi memiliki ide untuk merayakan hari kelahiran Nabi SAW, yang kemudian dikenal dengan istilah Mauludan. Rangkaian acara tersebut diantaranya dilakukan dengan membuat sayembara untuk membuat syair-syair untuk mengingat perjuangan Nabi saw agar kaum muslimin semakin mencintai Nabi SAW dan mendapat motivasi untuk berperang. Syair-syair tersebut kemudian berkembang bahkan dijadikan sebagai bacaan dalam ceremoni sholawatan. Jadi sholawatan seperti itu sesungguhnya bukan bagian dari Ibadah tetapi hanya ceremoni saja, bahkan bisa disebut kegiatan kesenian saja. Wallohu a’lam bishowab


 Syafaat (Syafa‘atul Uzhma)
Syafa‘atul ‘Uzhma adalah pertolongan atau pengampunan yang diberikan oleh Allah Swt kepada sebagian manusia di akhirat nanti. Pengampunan ini diberikan dengan cara memberikan izin kepada Nabi Muhammad SAW untuk melaksanakannya. Pada saat itu, konon umat manusia akan berada dalam kebingungan dikarenakan kesalahan dan khilaf mereka selama hidup di Dunia. Semua umat manusia akan mencari pertolongan agar terhindar dari azab Allah SWT. Maka umat manusia akan mendatangi para nabi untuk meminta syafa’at (pertolongan). Para Nabi menyatakan bahwa mereka tidak sanggup melaksanakannya. Akhirnya atas petunjuk Nabi Isa as, umat manusia disarankan untuk mendatangi Nabi Muhammad SAW agar beliau memohon kepada Allah Swt sehingga derita yang mereka tanggung itu hilang dan tidak bingung lagi. Setelah Nabi Muhammad SAW berdoa, maka Allah Swt mengabulkannya dengan memberi izin kepada beliau untuk memberi syafa‘at (pertolongan) kepada mereka yang dipilih oleh Nabi SAW berdasarkan izin dari Allah SWT, maka Nabi Muhammad SAW akan membebaskan orang-orang yang beriman dari derita itu dan memasukkan mereka ke dalam surga, sedang orang-orang kafir dimasukkan ke dalam neraka, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ اللهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُونَ لَوْ اسْتَشْفَعْنَا عَلَى رَبِّنَا حَتَّى يُرِيحَنَا مِنْ مَكَانِنَا فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ أَنْتَ الَّذِي خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ وَأَمَرَ الْمَلاَئِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ فَاشْفَعْ لَنَا عِنْدَ رَبِّنَا فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيئَتَهُ وَيَقُولُ ائْتُوا نُوحًا أَوَّلَ رَسُولٍ بَعَثَهُ اللهُ فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيئَتَهُ ائْتُوا إِبْرَاهِيمَ الَّذِي اتَّخَذَهُ اللهُ خَلِيلاً فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيئَتَهُ ائْتُوا مُوسَى الَّذِي كَلَّمَهُ اللهُ فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ فَيَذْكُرُ خَطِيئَتَهُ ائْتُوا عِيسَى فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ ائْتُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ فَيَأْتُونِي فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّي فَإِذَا رَأَيْتُهُ وَقَعْتُ سَاجِدًا فَيَدَعُنِي مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ يُقَالُ لِي ارْفَعْ رَأْسَكَ سَلْ تُعْطَهْ وَقُلْ يُسْمَعْ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ فَأَرْفَعُ رَأْسِي فَأَحْمَدُ رَبِّي بِتَحْمِيدٍ يُعَلِّمُنِي ثُمَّ أَشْفَعُ فَيَحُدُّ لِي حَدًّا ثُمَّ أُخْرِجُهُمْ مِنْ النَّارِ وَأُدْخِلُهُمْ الْجَنَّةَ ثُمَّ أَعُودُ فَأَقَعُ سَاجِدًا مِثْلَهُ فِي الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ حَتَّى مَا بَقِيَ فِي النَّارِ إِلاَّ مَنْ حَبَسَهُ الْقُرْآنُ. [رواه البخاري ومسلم].
Artinya: “Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: berkata Rasulullah SAW: Nanti Allah akan mengumpulkan manusia di hari kiamat, lalu mereka berkata, seandainya ada orang yang memohonkan syafaat kepada Tuhan kami untuk kami sehingga kami terbebas dari keadaan kami ini. Lalu mereka datang kepada Nabi Adam, mereka berkata: Engkaulah orang yang diciptakan Allah dengan tangan-Nya (langsung) dan meniupkan kepada engkau ruh dari-Nya dan memerintahkan malaikat, lalu mereka sujud kepada engkau, maka berilah kami syafaat yang berasal dari Tuhan kami. Adam menjawab: bukan aku yang dapat memberikannya, sambil menyebut kesalahan-kesalahannya. Adam berkata: datanglah kepada Nuh Rasul yang pertama kali diutus Allah. Lalu mereka datang kepada Nuh dan Nuh menjawab: aku bukanlah orang yang dapat memberikannya, sambil menyebut kesalahan-kesalahannya. Datanglah kepada Ibrahim orang yang dijadikan Allah teman-Nya. Lalu mereka datang kepada Ibrahim dan Ibrahim menjawab: aku bukanlah orang yang dapat memberikannya, sambil menyebut kesalahan-kesalahannya. Datanglah kepada Musa orang yang pernah berbicara dengan Allah. Lalu mereka datang kepada Musa dan Musa menjawab: aku bukanlah orang yang dapat memberikannya, sambil menyebut kesalahan-kesalahannya. Datanglah kepada Isa dan Isa menjawab: aku bukanlah orang yang dapat memberikannya, datanglah kepada Muhammad SAW, karena sesungguhnya Muhammad telah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang akan datang. Mereka pun mendatangiku, maka aku pergi minta izin kepada Tuhanku. Maka ketika aku melihat-Nya aku segera sujud, Ia membiarkanku sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Kemudian dikatakan: Angkatlah kepala engkau, mintalah pasti diberi, katakanlah niscaya akan didengar, mintalah syafaat pasti diberi. Lalu aku mengangkat kepalaku, lalu aku memanjatkan pujian kepada Tuhanku sesuai dengan yang diajarkan kepadaku, kemudian aku diizinkan memberi syafaat kepada orang-orang tertentu. Kemudian aku keluarkan mereka dari neraka dan aku masukkan ke dalam surga. Kemudian aku kembali menyatakan dan bersujud seperti semula, kemudian ketiga dan keempat, sehingga yang tinggal dalam neraka adalah orang yang tidak percaya dan menantang al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Di samping hadits di atas, ada lagi beberapa hadits shahih yang menerangkan tentang syafaat itu dan isinya sama dengan isi hadits di atas.
Dari penjelasan hadits di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
a.     Hak memberi syafaat itu hanya ada pada Allah, sebagai yang ditegaskannya:
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ.
 [البقرة (255).
Artinya: “Siapakah yang dapat memberi syafa‘at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. al-Baqarah (2): 255).
b.     Pada hari kiamat Nabi Muhammad SAW diberi izin oleh Allah untuk memberi syafa’at kepada sebagian manusia sesuai pilihan Nabi SAW dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Di antara yang diberi syafaat itu ialah orang-orang yang mencintai Nabi SAW dan beriman kepada al-Qur’an serta tidak menentangnya. Wallohu a’lam bishowab.
Membaca sholawat menjadi salah satu bukti cinta kita kepada Nabi SAW. Kita wajib mencintai Nabi SAW, karena beliaulah yang telah membawa kita ke jalan Allah SWT. Orang yang membaca sholawat pasti orang yang mencintai Nabi SAW, tidak mungkin orang yang membencinya. Oleh sebab itu kita disarankan untuk senantiasa bersholawat kepada Beliau, kapan pun dan dimanapun (bukan hanya dalam ceremoni atau ketika susah saja) sesuai dengan firman Allah di atas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar