Sholawat
adalah bentuk jamak (plural) dari Sholat yang artinya Do’a. Membaca shalawat
kepada Nabi Muhammad SAW mengandung pengertian berdoa kepada Allah Swt agar
Nabi Muhammad SAW dan keluarganya selalu dilimpahkan kesejahteraan dan
keberkatan. Tujuan dari membaca sholawat agar kaum muslimin mendapatkan syafaat
(syafa’atul Uzhma) di akherat nanti. Dasarnya ialah firman Allah Swt:
إِنَّ
اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. (الأحزاب (56).
Artinya:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai
orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam
penghormatan kepadanya.” (QS. al-Ahzab (33): 56)
Perintah
di dalam firman Allah SWT di atas adalah bersifat umum, tidak dijelaskan waktu
dan caranya. Oleh karena itu kaum muslimin dapat memanjatkan sholawat kapanpun
dan dimanapun berada. Dan yang paling utama adalah membaca sholawat ketika
beribadah.
(Al-Ahzab:56). Tentunya cara bersholawatnya
harus dengan cara yang baik dan benar serta tidak berlebihan. Ketika
bersholawat, maka harus disertai dengan mengingat perjuangan Nabi SAW seperti
halnya Beliau selalu mengingat umat-umatnya. Nabi SAW selalu sayang kepada
umatnya bahkan sampai akhir hayatnya yang diingat adalah umatnya, maka kita pun
harus membuktikan rasa sayang kepada Beliau, diantaranya dengan senantiasa
bersholawat dan mengikuti sunnahnya.
Di Masyarakat, kemudian berkembang syair-syair
untuk memuji Nabi SAW, oleh sebagian bahkan sering diadakan acara sholawatan
tetapi kadang kala dilakukan dengan berlebihan bahkan sambil dikeraskan.
Sesungguhnya kegiatan seperti ini diawali semenjak zaman Sholahuddin Al-Ayyubi.
Ketika itu kaum muslimin membutuhkan motivasi dalam berperang (perang salib).
Karena bertepatan dengan bulan Rabiul awwal (bulan kelahiran Nabi) maka,
Solahuddin al-Ayyubi memiliki ide untuk merayakan hari kelahiran Nabi SAW, yang
kemudian dikenal dengan istilah Mauludan. Rangkaian acara tersebut diantaranya
dilakukan dengan membuat sayembara untuk membuat syair-syair untuk mengingat
perjuangan Nabi saw agar kaum muslimin semakin mencintai Nabi SAW dan mendapat
motivasi untuk berperang. Syair-syair tersebut kemudian berkembang bahkan
dijadikan sebagai bacaan dalam ceremoni sholawatan. Jadi sholawatan seperti itu
sesungguhnya bukan bagian dari Ibadah tetapi hanya ceremoni saja, bahkan bisa
disebut kegiatan kesenian saja. Wallohu a’lam bishowab
Syafaat (Syafa‘atul Uzhma)
Syafa‘atul
‘Uzhma adalah pertolongan atau pengampunan yang diberikan oleh Allah Swt kepada
sebagian manusia di akhirat nanti. Pengampunan ini diberikan dengan cara
memberikan izin kepada Nabi Muhammad SAW untuk melaksanakannya. Pada saat itu,
konon umat manusia akan berada dalam kebingungan dikarenakan kesalahan dan
khilaf mereka selama hidup di Dunia. Semua umat manusia akan mencari
pertolongan agar terhindar dari azab Allah SWT. Maka umat manusia akan
mendatangi para nabi untuk meminta syafa’at (pertolongan). Para Nabi menyatakan
bahwa mereka tidak sanggup melaksanakannya. Akhirnya atas petunjuk Nabi Isa as,
umat manusia disarankan untuk mendatangi Nabi Muhammad SAW agar beliau memohon
kepada Allah Swt sehingga derita yang mereka tanggung itu hilang dan tidak
bingung lagi. Setelah Nabi Muhammad SAW berdoa, maka Allah Swt mengabulkannya
dengan memberi izin kepada beliau untuk memberi syafa‘at (pertolongan) kepada
mereka yang dipilih oleh Nabi SAW berdasarkan izin dari Allah SWT, maka Nabi
Muhammad SAW akan membebaskan orang-orang yang beriman dari derita itu dan
memasukkan mereka ke dalam surga, sedang orang-orang kafir dimasukkan ke dalam
neraka, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits:
عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ اللهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُونَ
لَوْ اسْتَشْفَعْنَا عَلَى رَبِّنَا حَتَّى يُرِيحَنَا مِنْ مَكَانِنَا
فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ أَنْتَ الَّذِي خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ
فِيكَ مِنْ رُوحِهِ وَأَمَرَ الْمَلاَئِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ فَاشْفَعْ لَنَا
عِنْدَ رَبِّنَا فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيئَتَهُ وَيَقُولُ
ائْتُوا نُوحًا أَوَّلَ رَسُولٍ بَعَثَهُ اللهُ فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ
هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيئَتَهُ ائْتُوا إِبْرَاهِيمَ الَّذِي اتَّخَذَهُ اللهُ
خَلِيلاً فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيئَتَهُ
ائْتُوا مُوسَى الَّذِي كَلَّمَهُ اللهُ فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ
فَيَذْكُرُ خَطِيئَتَهُ ائْتُوا عِيسَى فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ
ائْتُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ فَيَأْتُونِي فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى
رَبِّي فَإِذَا رَأَيْتُهُ وَقَعْتُ سَاجِدًا فَيَدَعُنِي مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ يُقَالُ
لِي ارْفَعْ رَأْسَكَ سَلْ تُعْطَهْ وَقُلْ يُسْمَعْ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ
فَأَرْفَعُ رَأْسِي فَأَحْمَدُ رَبِّي بِتَحْمِيدٍ يُعَلِّمُنِي ثُمَّ أَشْفَعُ
فَيَحُدُّ لِي حَدًّا ثُمَّ أُخْرِجُهُمْ مِنْ النَّارِ وَأُدْخِلُهُمْ الْجَنَّةَ
ثُمَّ أَعُودُ فَأَقَعُ سَاجِدًا مِثْلَهُ فِي الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ
حَتَّى مَا بَقِيَ فِي النَّارِ إِلاَّ مَنْ حَبَسَهُ الْقُرْآنُ. [رواه البخاري
ومسلم].
Artinya:
“Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: berkata Rasulullah SAW: Nanti
Allah akan mengumpulkan manusia di hari kiamat, lalu mereka berkata, seandainya
ada orang yang memohonkan syafaat kepada Tuhan kami untuk kami sehingga kami
terbebas dari keadaan kami ini. Lalu mereka datang kepada Nabi Adam, mereka
berkata: Engkaulah orang yang diciptakan Allah dengan tangan-Nya (langsung) dan
meniupkan kepada engkau ruh dari-Nya dan memerintahkan malaikat, lalu mereka
sujud kepada engkau, maka berilah kami syafaat yang berasal dari Tuhan kami.
Adam menjawab: bukan aku yang dapat memberikannya, sambil menyebut kesalahan-kesalahannya.
Adam berkata: datanglah kepada Nuh Rasul yang pertama kali diutus Allah. Lalu
mereka datang kepada Nuh dan Nuh menjawab: aku bukanlah orang yang dapat
memberikannya, sambil menyebut kesalahan-kesalahannya. Datanglah kepada Ibrahim
orang yang dijadikan Allah teman-Nya. Lalu mereka datang kepada Ibrahim dan
Ibrahim menjawab: aku bukanlah orang yang dapat memberikannya, sambil menyebut
kesalahan-kesalahannya. Datanglah kepada Musa orang yang pernah berbicara
dengan Allah. Lalu mereka datang kepada Musa dan Musa menjawab: aku bukanlah
orang yang dapat memberikannya, sambil menyebut kesalahan-kesalahannya.
Datanglah kepada Isa dan Isa menjawab: aku bukanlah orang yang dapat
memberikannya, datanglah kepada Muhammad SAW, karena sesungguhnya Muhammad
telah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang akan datang. Mereka pun
mendatangiku, maka aku pergi minta izin kepada Tuhanku. Maka ketika aku
melihat-Nya aku segera sujud, Ia membiarkanku sesuai dengan yang
dikehendaki-Nya. Kemudian dikatakan: Angkatlah kepala engkau, mintalah pasti
diberi, katakanlah niscaya akan didengar, mintalah syafaat pasti diberi. Lalu
aku mengangkat kepalaku, lalu aku memanjatkan pujian kepada Tuhanku sesuai
dengan yang diajarkan kepadaku, kemudian aku diizinkan memberi syafaat kepada
orang-orang tertentu. Kemudian aku keluarkan mereka dari neraka dan aku
masukkan ke dalam surga. Kemudian aku kembali menyatakan dan bersujud seperti
semula, kemudian ketiga dan keempat, sehingga yang tinggal dalam neraka adalah
orang yang tidak percaya dan menantang al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Di samping
hadits di atas, ada lagi beberapa hadits shahih yang menerangkan tentang
syafaat itu dan isinya sama dengan isi hadits di atas.
Dari
penjelasan hadits di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
a.
Hak memberi syafaat itu hanya ada
pada Allah, sebagai yang ditegaskannya:
مَنْ
ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ.
[البقرة (255).
Artinya:
“Siapakah yang dapat memberi syafa‘at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS.
al-Baqarah (2): 255).
b.
Pada hari kiamat Nabi Muhammad SAW
diberi izin oleh Allah untuk memberi syafa’at kepada sebagian manusia sesuai
pilihan Nabi SAW dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah
SWT.
Di antara yang diberi syafaat itu ialah orang-orang yang mencintai Nabi SAW dan beriman kepada al-Qur’an serta tidak menentangnya. Wallohu a’lam bishowab.
Di antara yang diberi syafaat itu ialah orang-orang yang mencintai Nabi SAW dan beriman kepada al-Qur’an serta tidak menentangnya. Wallohu a’lam bishowab.
Membaca
sholawat menjadi salah satu bukti cinta kita kepada Nabi SAW. Kita wajib
mencintai Nabi SAW, karena beliaulah yang telah membawa kita ke jalan Allah
SWT. Orang yang membaca sholawat pasti orang yang mencintai Nabi SAW, tidak
mungkin orang yang membencinya. Oleh sebab itu kita disarankan untuk senantiasa
bersholawat kepada Beliau, kapan pun dan dimanapun (bukan hanya dalam ceremoni
atau ketika susah saja) sesuai dengan firman Allah di atas